Disinfeksi Virus Covid-19 dengan Sinar Ultraviolet C (UV-C)

Ultraviolet (UV) sudah lama dikenal sebagai disinfektan untuk udara, air, dan permukaan. Sinar UV dibagi menjadi tiga klasifikasi: UV-A (320-400nm), UV-B (280-320nm), dan UV-C (200-280nm). Sinar UV yang digunakan dalam proses disinfeksi adalah sinar UV-C yang memiliki panjang gelombang 200-280nm. Hal tersebut disebabkan karena UV-C diserap oleh basa RNA dan DNA, sehingga dapat menyebabkan fusi fotokimiawi dari dua pirimidin yang berdekatan menjadi dimer yang terhubung secara kovalen, yang kemudian menjadi basa yang tidak berpasangan. Oleh karena sifat sinar UV-C tersebut, maka sinar UV-C sudah banyak digunakan dalam peralatan yang membutuhkan sterilisasi, seperti : Laminar Air Flow & Bio Safety Cabinet.

Dapatkah UV-C membantu pencegahan penularan COVID-19 dengan mengurangi kontaminasi?

International Ultraviolet Association (IUVA) percaya bahwa teknologi disinfeksi UV dapat berperan dalam mengurangi penularan virus COVID-19, SARS-CoV-2. Sinar UV-C telah digunakan secara luas selama lebih dari 40 tahun dalam mendisinfeksi air minum, air limbah, udara, produk farmasi, dan permukaan. Semua bakteri dan virus yang diuji hingga saat ini (termasuk coronavirus) merespons terhadap disinfeksi UV pada dosis yang sesuai.

Disinfeksi UV-C sering digunakan dengan teknologi lain dalam memastikan patogen apapun yang tidak “terbunuh” oleh satu metode (katakanlah filtrasi atau kimia) tidak dapat aktif kembali. Dengan cara ini, maka UV-C dapat diinstall pada sterilisasi klinis atau lainnya untuk menambah proses yang ada atau untuk menopang protokol yang ada dalam masa pandemi.

Infeksi COVID-19 dapat disebabkan oleh kontak dengan permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh area wajah. Meminimalkan resiko ini adalah kunci karena virus COVID-19 dapat hidup di permukaan plastic dan baja hingga 3 hari. Pembersihan dan disinfeksi dengan cairan disinfektan dapat meninggalkan beberapa kontaminasi residu, namun hal ini dapat dikurangi dengan disinfeksi menggunakan UV-C. Namun tetap disarankan disinfeksi ganda merupakah pilihan yang lebih bijaksana.

UV-C telah terbukti mencapai inaktivasi tingkat tinggi dari kerabat dekat virus COVID-19, yakni SARS-CoV-1 yang diuji dalam dosis 254nm UV dalam suspensi cairan. IUVA percaya bahwa hasil yang sama dapat diharapkan ketika diterapkan pada virus COVID-19 dan SARS-CoV-2. Namun kuncinya adalah menerapkan UV-C sedemikian rupa sehingga secara efektif dapat menggapai virus yang tersisa di permukaan tersebut.

Namun perlu dipahami bahwa ada kemungkinan bahwa sinar UV-C tidak dapat mencapai area tertentu, sehingga patogen itu tidak akan didisinfeksi. Tetapi secara umum, mengurangi jumlah total patogen dapat mengurangi resiko penularan dengan menerapkan UV ke banyak permukaan yang mudah terpapar. Hal yang  lebih baik lagi dengan mendisinfeksi udara dan permukaan di sekitar kamar serta peralatan pelindung pribadi.

Efektivitas sinar UV dalam praktek tergantung pada factor-faktor seperti waktu paparan, dosis sinar UV, dan kemampuan sinar UV untuk mencapai virus dalam air, udara, dan celah-celah permukaan.

Apakah disinfeksi dengan UV-C aman?

Seperti sistem disinfeksi lainnya, perangkat UV-C harus digunakan dengan benar agar aman.

 

 

Sumber :
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7112912/
- http://www.iuva.org/IUVA-Fact-Sheet-on-UV-Disinfection-for-COVID-19

Related News & Articles

PT. Gagas Envirotek Indonesia – Solusi Terbaik untuk Alat Laboratorium Lingkungan, Industrial Hygiene & K3
©2024 Gagas Envirotek Indonesia.